MEMONEWS.TODAY, JEMBER – Bank Indonesia (BI) Jember melakukan beberapa langkah strategis, guna meningkatkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang terdampak COVID-19.

Kebijakan ini hanya berlaku pada wilayah kerja BI Jember saja, yang meliputi Kabupaten Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi.

BI merumuskan empat langkah kebijakan yang dapat menyelesaikan permasalahan UMKM.

“Ada empat langkah yang dilakukan Bank Indonesia untuk mempercepat penyelamatan UMKM, dengan melihat sejumlah permasalahan yang dihadapi UMKM akibat pandemi,” kata Kepala Perwakilan BI Jember, Hestu Wibowo.

Menurut Hestu, langkah pertama yang di ambil BI adalah komunikasi kebijakan darurat COVID-19 kepada UMKM, yakni dengan mendorong UMKM memanfaatkan relaksasi yang diterbitkan pemerintah dan otoritas setempat.

Kemudian, langkah kedua adalah program virtual peningkatan kapasitas UMKM. Hal ini dilakukan dengan cara mempercepat program literasi keuangan digital, pelatihan keuangan, realisasi PSBI/PSRU untuk mendukung aspek produksi, peningkatan daya beli dan penjualan.

Langkah ketiga adalah melakukan percepatan akses pembiayaan/permodalan. Hal ini dilakulan bersama BMPD, asosasi, BUMN, LSM, dan konsultan keuangan mitra bank (KKMB).

Langkah keempat yakni pemanfaatan digital payment. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong pemanfaatan digital sebagai alat pembayaran dan penjualan, untuk di aplikasikan pada bisnis retail dan pasar tradisional.

Langkah-langkah tersebut disampaikan Hestu dalam acara bincang-bincang dengan tema “Kebangkitan UMKM pada Masa Pandemi COVID-19” di Auditorium Universitas Jember (Unej), Minggu (14/2/2021).

Hestu juga menyampaikan bahwa pihaknya perlu dukungan dari semua pihak dalam merealisasikan langkah-tersebut.

“Perlu dukungan berbagai pihak untuk pemulihan UMKM melalui program berkesinambungan hingga UMKM dapat bangkit kembali,” kata Hestu.

Tiga masalah, lanjutnya, yang dihadapi UMKM akibat pandemi COVID-19, yakni cashflow, modal dan bahan baku. Untuk itu UMKM sangat membutuhkan perhatian serius.

Baca Juga  Pohon Rawan Tumbang dan Ancam Pengguna Jalan, Dibersihkan Warga Simo Tuban

“Hambatan distribusi dan penjualan menurun hingga mencapai 67 persen selama pandemi berdampak negatif pada cashflow, kemudian penurunan laba dan meningkatnya pengeluaran rutin juga menggerus modal UMKM,” ungkap Hestu.

“Selain itu, kenaikan harga dan terbatasnya suplai bahan baku selama pandemi tentu akan mempersulit proses produksi UMKM,” imbuhnya.

Hestu optimis, BI Jember dapat membantu UMKM untuk bangkit di tengah pandemi, dengan cara pelatihan, digital farming dan membuka akses pasar.

Reporter : M. Imron.

Foto : Acara bincang-bincang di Auditorium Unej

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here