MEMONEWS.TODAY, JEMBER – Satu tersangka kasus korupsi Pasar Manggisan, Jember dikabarkan buron, meski telah berhasil menjebloskan para terdakwa yang terkait kasus korupsi rehabilitasi Pasar Manggisan ke dalam penjara, pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember terus bergerak.

Senin sore (8/2/2021) Kejari Jember akhirnya menahan Hadi Sakti, kuasa direktur dari PT Dita Putri Waranawa, kontraktor pelaksana yang mengerjakan proyek rehabilitasi Pasar Manggisan.

Hadi Sakti sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka baru bersama dengan Agus Salim –direktur PT Dita Putri- pada 7 Januari 2021. Saat penetapan tersangka itu, keduanya sama-sama mangkir dari panggilan sebagai saksi.

Penahanan Hadi Sakti setelah memenuhi panggilan untuk pemeriksaan sebagai tersangka. “Kita periksa dari sekitar pukul 10:00 WIB, lalu langsung kita tahan,” ucap Setyo Adhi Wicaksono, Kepala Seksi Pidana Khusus, Kejari Jember saat konferensi pers.

Tersangka Hadi Sakti hanya bungkam saat ditanya wartawan ketika digelandang menuju mobil tahanan. Tersangka lainnya Agus Salim masih mangkir dari panggilan.

Agus akan segera ditetapkan sebagai buron. Kejari juga akan memasukkan Agus Salim ke dalam daftar pencegahan bepergian ke luar negeri, kepada Imigrasi karena dinilai jaksa tidak ada itikad baik.

“Tidak ada iktikad baik dari Agus Salim kepada penyidik. Kita dibantu intelejen kejaksaan, akan sinergi dengan instansi lain, termasuk upaya pencekalan,” lanjut Setyo.

Penetapan tersangka terhadap dua orang petinggi PT Dita Putri Waranawa ini merupakan pengembangan dari putusan majelis hakim di PN Tipikor Surabaya di Sidoarjo, yang diketuk 15 September 2020 lalu. Dalam vonis untuk salah satu terdakwa, yakni Edy Shandy Abdur Rahman, tertera jelas bahwa kedua tersangka tersebut turut menerima aliran uang panas. “Ini merupakan pengembangan dari terdakwa Edy Shandy,” lanjut Setyo.

Baca Juga  Setelah PBNU, Kini Muhammadiyah Dukung Kebijakan Kapolri Jendral Listyo Sigit

Edy Shandi Abdur Rahman merupakan kontraktor penggarap proyek rehab Pasar Manggisan. Edy divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 200 juta, subsider 2 bulan kurungan, serta mengganti kerugian negara sebesar Rp 1 Miliar.

Sedangkan tiga terdakwa, mendapat nasib yang berbeda. Anas Maruf, divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta. Anas tidak dihukum mengganti kerugian negara karena terbukti tidak menikmati sepeserpun aliran dana korupsi. Sedangkan perencana proyek yang juga karyawan PT Maksi Solusi Enjinering (PT MSE), M. Fariz Nurhidayat, divonis 5 tahun penjara, denda Rp 200 juta, serta mengganti kerugian negara sebesar Rp 90.238.257,-.

Keputusan hakim yang dinilai janggal saat memutuskan Irawan Sugeng Widodo alias Pak Dodik yang tidak lain adalah atasan Fariz. Majelis hakim justru memberikan vonis bebas murni. Tak pelak, putusan bebas terhadap Irawan Sugeng Widodo ini membuat jaksa langsung mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). “Putusan kasasi masih belum keluar,” pungkas Setyo. (*)

Reporter: Rio

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here