MEMONEWS.TODAY, JEMBER-
Imron Baihaqim, terduga pemukulan buka suara mengenai insiden keributan dengan Dodik Wahyu Irianto, Ketua rukun tetangga (RT) Perumahan Bernady Land Cluster Gardenia, di Lingkungan Puring, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.

Anggota DPRD dari PPP ini saat ditemui sejumlah awak media kemudian bercerita mengenai kronologis peristiwa yang akhirnya berujung dirinya dilaporkan ke polisi oleh Dodik dengan perkara dugaan tindak pidana penganiayaan.

Sebelum peristiwa terjadi Imron berniat mendatangi seorang pengacara yang tinggal di perumahan tersebut untuk berkonsultasi tentang suatu masalah. Legislator muda ini tiba disana selepas waktu sholat Magrib pada Minggu, 31 Januari 2021.

“Saya lupa jamnya, tapi setelah Magrib mengunjungi teman LBH (Lembaga Bantuan Hukum) untuk minta tolong analisa ada sesuatu yang butuh pendapat darinya,” tutur Imron tanpa menyebut identitas temannya maupun persoalan yang dikonsultasikan.

Namun tak lama, sesampai di rumah temannya itu, Imron mendapat kabar bahwa ayahnya yang sudah terbaring sakit selama dua pekan tiba-tiba kondisinya bertambah kritis.

Mendengar kabar tersebut, dia kemudian membatalkan agenda konsultasi dan ingin sesegera mungkin pulang ke rumahnya di Desa Glgahwero, Kecamatan Kalisat.

“Kabar dari adik saya lewat group keluarga menyampaikan kalau abah darahnya tinggal 67. Saya kalut dan harus cepat-cepat balik ke rumah. Lebih khawatir abah, sehingga tidak jadi ketemu dengan teman saya,” ungkap anggota Komisi C DPRD Jember itu.

Imron mengakui salah telah memacu mobil Pajero yang dikendarainya dengan kecepatan sedikit lebih kencang dari biasanya meski dalam kawasan perumahan. Roda mobil warna putih yang dikendarainya kemudian melindas genangan air yang ada di jalan, sehingga menimbulkan cipratan. Tidak jauh dari lokasi itu, Imron melihat Dodik dan beberapa anak kecil.

Baca Juga  Bandara Internasional Banyuwangi ditutup sementara, Akibat Abu Gunung Raung

Dodik kemudian menegur dan meminta Imron berhenti. Korban menegur agar dirinya melaju pelan karena dalam perumahan.
Karena dalam kekalutan dan tergesa ingin segera pulang melihat kondisi ayahnya, membuat dirinya tersinggung saat diberhentikan Dodik.

Imron kemudian berbicara dengan nada sedikit keras untuk menjelaskan perihal situasi yang dialaminya. “Saya turun mau klarifikasi, tapi kondisi seperti itu malah cekcok,” ungkapnya.

Pemukulan pun tidak terelakkan hingga dilerai beberapa warga. Sama sekali Imron tidak mengelaknya. Kendati pria yang juga Ketua DPC Gerakan Pemuda Ka’bah Jember nonaktif itu akhirnya merasa tindakannya sebagai kesalahan.

“Perasaan saya waktu itu syok dikabari abah kondisinya kritis, lalu memang terburu-buru perasan bukan ngebut full speed, tapi agak cepat dari biasanya. Saya akui memang khilaf sampai emosi. Saya minta maaf kepada Pak Dodik serta kepada semua pihak termasuk teman-teman DPRD dan PPP karena pasti membuat mereka tidak nyaman,” ucapnya.

Imron mengaku telah berusaha menemui Dodik untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung atas kesalahannya, namun belum terlaksana. Harapannya, masalah yang terjadi dapat dimusyawarahkan secara kekeluargaan untuk diselesaikan. Meskipun, ia menghormati langkah Dodik mencari keadilan.

Selebihnya, Imron berajanji mematuhi surat peringatan dari PPP dengan cara memperbaiki sikap serta menghadapi persoalan yang tengah membelitnya dan mencoba agar bisa mediasi dengan korban.

Reporter : Rio

Foto : Imron Anggota DPRD Jember.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here