MEMONEWS.TODAY, JEMBER-
Seorang warga melapor ke Kejaksaan Negeri Jember. Yang dilaporkan adalah Kepala Desa (Kades) Gambiran, Kecamatan Kalisat. Penyebabnya Kades bernama Purwandi diduga menjual 4 gumuk atau bukit yang berdiri di atas tanah kas desa (TKD).

Sahrawi, warga yang melaporkan, mengatakan sebelum diduga menjual gumuk yang ada diatas tanah kas desa, kepala desa melakukan sosialisasi akan mendirikan tempat wisata di lokasi TKD.”Sekitar bulan Desember 2019 mengadakan sosialisasi akan didirikan taman pemandian. Kata kades gumuk mau diratakan,” kata Sahrawi saat dikonfirmasi, Rabu (20/1/2021).

“Tapi kenyataannya diduga 4 bukit dijual sama kepala desa. Sejak Januari 2020 sudah ditambang hingga sekarang satu bukit sudah habis,” katanya.

Padahal seharusnya TKD tidak boleh dijual. Bahkan jika disewakan pun sesuai Perda nomor 6 tahun 2007 harus melalui persetujuan BPD (Badan Permusyawaratan Desa) dan melalui proses lelang terbuka.

“Informasi yang saya terima gumuk itu dijual Rp. 60 juta per gumuk jadi kalau 4 jadi Rp 240 juta. Saya mendapat informasi uang penjualan gumuk itu tidak masuk kas desa,” jelasnya.

Kepala Desa menurut Sahrawi sempat ditanya, namun mengaku tidak pernah menerima uang penjualan gumuk.

“Sesuai Perda nomor 3 tahun 2007 itu harus melalui proses lelang dulu dan membentuk panitia lelang dan hasilnya masuk kas desa,” katanya.

Proses hukum kasus ini saat ini masih berjalan sejak dilaporkan 4 November 2020 lalu. Sejumlah saksi telah dipanggil oleh pihak Kejari Jember.

Tidak hanya muncul kasus tanah kas desa, laporan pertanggung jawaban (LPJ) kades, hingga saat ini belum dilakukan.”Sampai saat ini LPJ pun terlambat karena tim anggaran desa tidak pernah dilibatkan. Karena terlambat BPD, sekertaris desa tim anggaran tidak mau tanda tangan karena RAB penuh dengan kesalahan,” katanya.

Baca Juga  7 Korban Longsor Pamekasan 5 Meninggal, Forkopimda Jatim Takziayah ke Pondok Pesantren Annidhomiyah

Sementara itu Kades Gambiran Purwandi saat dikonfirmasi mengatakan dirinya tidak pernah menjual maupun menyewakan gumuk. Dirinya sebagai Kades hanya bekerja sama dengan seorang bernama Nurul untuk meratakan lokasi bakal kolam renang.”Itu kerjasama pemerataan gumuk kan itu untuk wisata desa,” kata Purwadi melalui saluran telepon.

“Itu saya kerjasama dengan mas Nunuk saya,” sebutnya.

Namun saat ditanya material berupa batu dan pasir hasil pemerataan gumuk tersebut, Purwandi mengaku urusan Nunuk.”Saya gak ngerti itu saya Cuma inginnya rata,” jelasnya.

“Desa kan tidak punya alat gitu (untuk meratakan gumuk. Karena memang gumuk itu tidak ada pasirnya,”jelasnya.

“Satu gumuk kita ratakan kita paving, kita bikin warung-warung disitu biar masyarakat itu bisa jualan disitu,”sambungnya.

Terkait tidak adanya lelang menurut Purwadi tidak dilakukan karena tidak ada sewa. Rekanan pun tidak dibayar, namun mereka boleh memanfaatkan batu dan pasir hasil pemerataan gumuk. ”Karena tidak disewakan tidak ada lelang,” jelasnya.

Purwadi juga menjelaskan pihaknya melibat semua pihak termasuk BPD dan tokoh masyarakat setempat sebelum pemerataan dilakukan seharusnya ada musyawarahkan dulu, dengan mendatangkan tokoh masyarakat.(*)

Reporter: Rio

Foto: Gumuk milik Desa Gambiran yang nyaris rata dengan tanah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here